Officers at Oxalis Hotel, Magelang with Bu Herni |
Sembilan belas bulan merantau (jarakdekat)
Enam kamar kos
Tiga posisi kerja
Dua kota wilayah kerja
Satu perusahaan
Itu pengalaman berharga. Sudah tak perlu lagi ditanya berapa orang yang kutemui dalam sehari, tak perlu lagi ditanya "Hari ini mau ngapain?" karena waktu seakan tak cukup untuk bekerja (khusus untuk hari Senin dan Rabu). Makan lebih banyak di luar daripada masak sendiri (damn impossible).
Saat kerapihan bukan lagi teman baikku, saat semua yang tersusun di kamar nampak seperti kediaman the prodigal-son. Pekerjaan yang menumpuk sudah jelas kadang kukerjakan di kamar ini di kala malam hari, di sebuah ruang sewaan terluas yang pernah kubayar.
Ak pernah melihat supir mengencingi ban truk-nya sendiri, pernah melihat supir truk nyupir sambil nyukur jenggot (i mean it) dan melihat ban truk pecah! Mungkin dari sini ak sudah ditakdirkan akan memiliki sepuluh truk pengangkut di perusahaanku sendiri, kekekek, aamiin.
Dalam dua minggu terakhir, ak merasa "Masalah memang harus dilewati, tidak dihindari atau ditunda diselesaikan". Betapa kesalnya ketika semua sedang berjalan lancar ada saja yang mencari masalah, manjanya relasi kerja, kakunya klien di luar kantor, perkataan tidak enak yang meledak dari mana saja, man, here im working! Ahaha, tapi mungkin saja ak terlalu melebihkan cerita tersebut, karena memang bila dikerjakan satu-satu semua akan kelar, namun tumpukan kerja semakin menggila; bertambah dan lebih.
Di kehidupan ini ak pernah makan di tempat yang paling tidak layak sampai yang bisa dibilang 'lebih dari segala yang ada', maklum, anak kos. Makan cukup vital dalam menjaga kondisi tubuh saat musim sedang amburadul ini. Entah kenapa ak selalu makan tepat waktu, i dont givva damn though i got something to do, mungkin ini didikan terbaru dalam fase menuju kedewasaan, saat di rumah yang kuperhatikan berjalan lancar adalah sarapan; sisanya kacau.
(to be continued..)
0 Comments:
Post a Comment
Katakan disini...